Rabu, 03 April 2019

Penerapan Metode Self-Potensial untuk Mengetahui Anomali Bawah Tanah Area Taman Alumni dan Belakang Gedung Rektorat ITS

PENERAPAN METODE SELF-POTENSIAL UNTUK MENGETAHUI ANOMALI BAWAH TANAH PADA AREA TAMAN ALUMNI DAN BELAKANG GEDUNG REKTORAT ITS

Reni Agustin, Sungkono

Departemen Fisika, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
E-mail: Agustinreni0108@gmail.com

Abstrak— Telah dilakukan Percobaan Penerapan Metode Self-Potential untuk Mngetahui Anomali Bawah Tanah pada Area Depan Gedung SCC ITS. yang bertujuan untuk mengetahui anomali lapisan bawah tanah, mengetahui kegunaan dari metode Self-Potential, dan mengetahui prinsip kerja dari metodeself-potential. Proses ini dimulai pada tahap akuisisi data dengan menentukan 3 (metode gradient) dan 4 line (metode fixbase)  sepanjang 40 meter dan . Dua line tersebut sejajar, hanya saja berbeda letaknya sejauh 1 meter.  Pengukuran dilakukan setiap satu meter pada masing-masing lintasan. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan 1 set alat SP metode diantaranya, 6 buah porous pots, 6 kabel penjepit, 2 buah palu geologi, 2 buah multimeter, 1 buah meteran panjang, dan larutan CuSO4. Pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan Software Surfer 8. Hasil pengolahan data adalah berupa data kontur self potential dengan warna yang berbeda, dimana setiap warna menggambarkan anomaly tertentu. Dari data hasil percobaan,Untuk metode gradient didaptkan beda potensaial terbesar yaitu pada rentang X=67790 - 67795 dengan Y= 9194895 dengan nilai 20. Sedangkan terendahnya yaitu X=697800 Y=9194870; X= 697795 - 697800 Y=9194875; X=699795-697800 Y=9194880-9194885 ; X =697795 Y= 9194890-9194895 dengan nilai -24. sedangkan untuk metode fixbase didaptkan nilai beda potensial terbesar yaitu  X= 698100-698200 Y=914700-914800 yaitu bernilai renang 200 sampai 500. Sedangkan yang terendah yaitu di koordinat  X=698100 Y=9194800 yaitu -50.

   Kata Kunci— Anomali, Line, Porous Pots, Self-Potential, Surfer 

I. PENDAHULUAN

Tanah Indonesia yang subur salah satunya dipengaruhi oleh adanya kandungan air dalam tanah yang banyak. Kandungan air ini, nantinya akan di manfaatkan tanaman untuk berfotosintesis. Untuk mendeteksi kesuburan tanah inilah, digunakan salah satu metode geofisika yaitu metode Self Potential. Metode (Self Potential, SP) merupakan bentuk metode akuisisi data Geofisika yang bermanfaat untuk dapat mengeksplorasi sumberdaya alam bawah permukaan. Metode ini berdasarkan pada pengukuran potensial diri alami dalam kerak bumi tanpa harus menginjeksikan arus listrik ke dalam tanah, oleh karena itulah, metode ini disebut sebagai metode pasif. Metode Potensial Diri dapat digunakan untuk mendeteksi reservoir panas bumi, mineral logam, air bawah tanah, sumber air dan sebagainya. Selain itu, metode ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi rembesan limbah cair bawahpermukaan tanah (Sharma 1997).  
Metode Potensial Diri (Self Potential, SP) merupakan suatu metode survei Geofisika yang dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi sumberdaya alam bawah permukaan. Metode ini didasarkan pada pengukuran potensial diri massa endapan batuan dalam kerak bumi tanpa harus menginjeksikan aruys listrik ke dalam tanah, seperti metode geolistrik lainnya. Metode Potensial Diri dapat digunakan untuk mendeteksi reservoir panas bumi, mineral logam, air bawah tanah dan sebagainya. Selain itu, metode ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi rembesan limbah cair bawah permukaan dan analisis geokimia (Sehah, 2011).
Potensial diri merupakan tegangan statis alam yang terdapat di permukaan bumi, akibat proses mekanik dan elektrokimia di bawah permukaan. Pada dasarnya potensial diri merupakan tegangan listrik searah (DC) yang terjadi di permukaan bumi yang bervariasi secara lambat.Kemunculan potensial diri terkait dengan pelapukan batuan/mineral, variasi mineral di dalam batuan, aktivitas biolistrik bahan organik, gradien tekanan dan temperatur pada permukaan cairan, serta gejala alam lainnya. Pada proses mekanik dihasilkan potensial difusi (liquid-junction), potensial shale dan potensial mineralisasi (Sehah, 2011).
Potensial alami didalam bumi terdiri dari dua komponen, antara lain komponen yang selalu konstan dan tidak memiliki arah dengan komponen yang berubah-ubah terhadap waktu. Komponen yang konstan disebabkan oleh proses elektrokimia yang terjadididalam bumi sedangkan komponen yang berubah--ubah disebabkan oleh berbagai macam proses yang menyebabkan adanya potensial dan arus bolak-balik yang diinduksikan oleh petir dan perbedaan magnet bumi yang juga dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.potensial diri dipengaruhi oleh beberapa lain, namun yang paling besar pengaruhnya adalah air tanah. Potensial air diproduksi oleh aliran air tanah dengan berperan sebagai elektrolit dan pelarut dari mineral yang berbeda. Ada tiga cara dalam mengkonduksikan listrik melalui batuan yaitu dengan cara dielektrik, elektrolitik dan konduksi elektronik. Pertama dengan potensial elektrokinetik, yang gerbentuk akibat pergerakan elektrolit melalui celah berpori atau kapiler. Dalam metode ini, potensial diukur sepanjang kapiler. Potensial yang dihasilkan dikelompokkan sebagai electrofiltration electrochemical dan streaming potential. Menurut hukum Helmhotz, aliran listrik terjadi karena gradient hidrolik dan kuantitas(kopling elektrofiltrasi) yang merepresentasikan sifat fisis dan kelistrikan dari elektrolit dan dari jaringan melalui medium elektrolit yang terlewati. Potensial akan cenderung meningkat dengan arah aliran air  sebagai muatan listrik yang mengalir pada arah yang berkebalikan. Dengan konsntrasi muatan negative sulit mengalir dan dapat menghasilkan anomali SP pada ketinggian topografi (Hamzah, Joko, and Wahyudi 2008).
Secara teknis prinsip kerja metoda Potensial Diri adalah mengukur tegangan statis alam (natural static voltage) melalui dua buah elektroda yang ditancapkan di permukaan bumi, yang dihubungkan dengan Digital Milivoltmeter.Milivoltmeter ini harus mempunyai impedansi masukan yang besar untuk mengabaikan arus listrik yang berasal dari bumi selama pengukuran. Keunggulan metode Potensial Diri daripada metode geolistrik lain adalah sangat responsif untuk target bawah permukaan yang bersifat konduktif seperti mineral logam dan mineral sulfida, serta dapat diterapkan untuk daerah yang topografinya tidah datar. Jika sebuah elektroda ditancapkan ke tanah sebagai elektroda potensiak, maka resultan gaya elektrokimia pada bidang kontak antara elektroda dengan tanah air akan membentuk potensial palsu (spurious) meski tidak ada arus yang melaluinya. Potensial palsu ini mempunyai nilai berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain, atau antara satu tempat dengan tempat lain, atau antara satu waktu terhaap waktu yang lain, sehingga sangat sulit membuat faktor koreksinya untuk mereduksi nilai potensial ini.Konsenkuensinya diperlukan yang bersifat non polarisasi, sehingga nilai potensialnya tidak dipengaruhi oleh arus yang melewatinya.Elektroda semacam ini dapat didesain dari logam penghantar yang dicelupkan ke dalam larutan jenuhnya, misalnya logam Cu dalam larutan CuSO4, logam Zn dalam larutan ZnSO4 dan sebagainya.Logam dan larutan tersebut dikemas dalam sebuah container berbentuk pot berpori (porous pot).Penggunaan pot berpori dimaksudkan agar larutan dapat merembes secara perlahan sehingga membuat kontak dengan tanah. Metode Potensial Diri yang di desain dengan elektroda pot berpori (porous pot) sangat tepat diterapkan untuk penelitian panas bumi, karena pada umumnya reservoir panas bumi berisi fluida panas yang mengandung mineral-mineral sulfida yang bersifat konduktif. Metode potensial diri diperlukan untuk mengetahui jalur komunikasi, arah aliran air injeksi di bawah permukaan. Metode potensial diri sangat tepat untuk digunakan dalam memetakan distribusi anomali yang berhubungan dengan arah dan besaran relatif aliran fluida. Beberapaaplikasi penelitian tentang potensial diri yang telah dilakukan dibeberapa daerah (Sudiartono, 2007).
Eksplorasi panas bumi tidak terlepas dari konsep dasar pola aliran air tanah dengan mempelajari pola aliran fluida.Pola aliran fluida ini dapat digunakan sebagai landasan dalam rangka melihat sifat listrik aliran panas bumi dalam hal ini metode potensial (Selfpotentials) (Rizal, 2010)
Berdasarkan fungsi waktu dan posisi dari elektroda metode pengukuran SP terbagi menjadi 2 jenis yaitu Leap Frog dan Fix Base. Metode Leap Frog atau metode gradien potensial merupakan metode dimana kedua buah elektroda yang digunakan berpindah-pindah dengan jarak yang tetap. Pengukuran ini dilakukan dengan saling melompati posisi antar elektroda (seperti gerakan katak melompat), dengan posisi dan spasi yang telah ditentukan dalam lintasan survey dan titik pengamatan berada diantara kedua elektroda. Sehingga nilai potensial yang terukur pada satu titik ukur akan saling berkaitan dengan titik ukur didekatnya. Sedangkan metode Fix Base Station atau metode amplitudo potensial menggunakan dua elektroda, dimana satu elektroda ditempatkan sebagai base sedangkan yang elektroda yang lain berpindah-pindah sepanjang lintasan dengan jarak tetap. Metode Fix Base Station mempunyai kelebihan pada tingkat kesalahan yang diakibatkan pengambilan data bernilai lebih kecil dan mengurangi kemungkinan pemetaan anomali yang sangat mencolok dengan menggunakan panjang gelombang pendek, sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan bentangan kabel yang panjang (Davydov, 1961).

II. METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan

Dalam melakukan percobaan ini yaitu digunakan alat dan bahan diantaranya satu buah GPS untuk menandai posisi atau koordinat yang diambil datanya, satu buah meteran untuk mengukur jarak, tiga buah palu geologi untuk membuat lubang penempatan porous pot pada tanah, enam buah porous pots sebagai wadah larutan elektroda, 6 buah kabel sebagai penghubung, larutan CuSo4 sebagai elektroda, dua buah multimeter untuk menhitung nilai beda potensial yang dihasilkan.

B. Langkah Kerja

Langkah pertama dalam pengambilan data adalah menentukan lokasi dalam pengambilan data. Untuk  metode Fix Base pengambilan data di lakukan di belakang Gedung Rektorat, ITS. Sedangkan untuk pengambilan data Gradient di belakang Taman Alumni, ITS.


 

Gambar 1. Area pengambilan data lapangan.gradient


 Gambar 2. Area pengambilan data lapangan fix base

Langkah kerja  yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan,siapkan porous pot dengan memasukkan larutan elektroda CuSO4. Kemudian dibuat 3 lintasan garis sepanjang 40 m (untuk percobaan metode Gradient) dan dibuat 4 lintasan garis sepanjang 40 m (percobaan metode fix base),  lintasan yang dibuat harus sejajar dan lurus hal ini berhubungan dengan pengambilan data yang akan menggunkan gps untuk menentukan nilai x dan y. Selanjutnya menentukan base yang ditanami 2 buah porous pot dengan jarak 2 meter antar porous pot dan berjarak 2 meter dari panjang lintasan yang telah ditentukan. Lalu dicatat nilai beda potensial pada porous pot di bagian base setiap 10 menit (untuk fix base) dan 5 menit (untuk gradient). Kemudian dibuat lubang pada 3 lintasan sedalam porous pot  dengan jarak antar lubang benilai 2 m (fix base) dan 3 m (gradient), sehingga didapatkan 19 titik (pada metode fix base) dan 13 sd 14 titik ( pada metode gradient) pada setiap lintasan. Selanjutnya dilakukan pengambilan data yang menggunakan GPS untuk mencatat nilai yang dihasilkan pada bidang koordinat x dan y pada tiap titik di  titik setiap 2 meter. Langkah berikutnya dilakukan penanaman pada porous pot dan dihitung beda potensial diantara keduanya dengan menggunakan multimeter yag disediakan. Pada saat penanaman dan pemindahan porous pot diusahakan dalam posisi tegak atau tidak miring. Hal tersebut dilakukan secara berulang untuk lintasan selanjutnya.
Untuk memperjelas perbedaan pengambilan data dengan menggunakan metode fix base dan gradient disajikn gambar sebagai berikut:



Gambar 3. Percobaan dengan emnggunakan metode gradient

 

Gambar 4. Percobaan dengan emnggunakan metode Fix Base

C. Flowchart

Berikut flowchart/ diagram alir untuk memperjelas percobaan yang dilakukan, yang disajikan dalam gambar 5.

 Gambar 5. flowchart 



III. 
HASIL DAN DISKUSI


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didaptkan data diantaranya yaitu data latitute dan longitude, waktu dan beda potensial kemudian dilakukan pengolahan data menggunakan  software Surfer 11.

A. Analisa data dan Perhitungan

Berikut ini tabel dari percobaaan menggunakan metode Fix base dan Gradient. Kemudian terdapat hasil perhitungan keduanya.

Tabel 1. Data hasil percobaan llintasan 1 dengan metode gradient
  


 Tabel 2. Data hasil percobaan lintasan 2 dengan metode  Gradient


Tabel 3. Data hasil percobaan llintasan 3 dengan metode gradient

Tabel 4. Data hasil percobaan llintasan 1 dengan metode Fixbase

Tabel 5. Data hasil percobaan lintasan 2 dengan metode  Fixbase

Tabel 6. Data hasil percobaan lintasan 3 dengan metode Fixbase

Tabel 7. Data hasil percobaan lintasan 4 dengan metode Fixbase

Setelah dilakukan percoban maka didapatkan data sebagai berikut.


Tabel 8. Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi gradient  llintasan 1 dengan metode gradient


Tabel 9. Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi gradient  llintasan 2 dengan metode gradient


Tabel 10. Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi clousure  llintasan 1 dengan metode Fixbase



Tabel 11.  Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi clousure  llintasan 2 dengan metode Fixbase



Tabel 12.  Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi clousure  llintasan 3 dengan metode Fixbase

Tabel 13.  Data hasil pehitungan koreksi harian dan koreksi clousure  llintasan 4 dengan metode Fixbase


B. Permodelan

Berdasarkan data yang telah diolah maka dilakukan pemodelan menggunakan software Surfer 11. berikut kontur  yang dihasilkan.





Gambar 6. kontur tanah pada Percobaan SP metode Fixbasae

 


Gambar 8. kontur tanah pada Percobaan SP metode Gradient

C. pembahasan

Telah dilakukannya percobaan sp dengan menggunakan dua meode yaitu metode Fixbase dan Gradient. Pada dua percobaan ini menggunakan larutan CuSo4 karena mempu berinteraksi dengan tanah selain itu  juga berinteraksi dengan elektrode pada porous pots. Pada setiap interaksi dengan tanah maupun dengan porous pots, CuSo4  melakukan pertukaran ion. Pertukaran ion inilah yang mengakibatkan aliran ion dalam tanah bisa terdeteksi dan menimbulkan beda potensial. Beda potensial ini, nantinya akan terbaca pada multimeter. Beda potensial tanah untuk jarak 20 cm biasanya tidak sampai 0,1 mili volt.Percobaan ini dilakukan di dua tempat, untuk area percoban fixbase berada di belakang gedung rektorat, sedangkan percobaan gradient berlangsung di taman alumni. Terjadi percobaan di dua tempat karena terkendala oleh alokasi waktu yang telah ditentukan. Metode yang pertama digunakan yaitu metode gradient, dimana metode ini mengukur beda potensial antara sepasang elektroda dengan spasi tertentu yg tetap pada satu lintasan / profil. Pada metode ini kedua porous pout dipindahkan ke lubang-lubang yang telah dibuat. Dan pada metode ini digunakan dua titik referensi yang akan di ukur beda potensialnya selama  tiap 5 menit sekali. Pada saat yang bersamaan dilakukan pengukuran beda potensial di setiap lintasan dengan cara menentukan kordinat pengukuran menggunakan GPS. Pada GPS akan tercatat langitute dan longitude atau posisi x dan y serta dalam pengambilan data dialkukan pengambilan waktu. Lalu data yang sudah didapat dihitung dan dicari koreksi harian dan koreksi gradientnya. Koreksi gradient ddiadapatkan dari selisih antara data koreksi harian  ke n+1 dengan koreksi ke n. koreksi harian sendiri didaptkan dari data beda potensial yang dihasilkan dikurangi dengan nilai variasi harian. Untuk lintasan 1 nilai variasi harian bernilai 0 sehingga koreksi harian bernilai sama dengan beda potensial yang dihasilkan. Sedangkan untuk nilai variasi  harian lintasan ke 2 dan ke 3 berniali -0.2.Pada  percobaan gradient kutub negatif dari volt-meter sebagai ‘leading electrode’ dan kutub positif sebagai ‘trailing electrode. Dan bed a potensial yang dihasilkan memiliki satuan  mV/m atau mV/km. Pada percobaan dengan menggunakan metode gradient ini memiliki keuntungan yaitu lebih praktis, namun juga memiliki yaitu tingkat ketepatan berulang lemah. Pada kontur tanah yang ditampilkan dapat diketahui jika pada lintasan yang diteliti, nilai potensial tanahnya bervariasi, pada posisi x=697795 berkisar antara -8 sampai 14 seangkan pada Y=9194895 berkisar antara 2 ampai 12. warna-warna yang berbeda pada gambar 8 an 9 menunjukkan nilai potensial lapangan yag diteliti. Semakin besar nilainya maka nilai potensialnnya (beda ptensialnya) semakin tinggi.pada percobaan yang telah dilakukan menggunakan metode gradient didapatkan bebrpa titik yang memiliki beda potensial bernilai rendah yaitu ada 5 titik yag dlambangkan warna ungu dengan nilai -24, sedangkan sedangkan beda potensial bernilai 10 ditemuka 5 titik dan 1 titik bernilai 8. Dan terdapat suatu titik nmaun pada gambar yang disajikan titik tersebut sebagian terpotong, titik ini memiliki beda potensial yang paling besar diantara titik lainnya yaitu 20.
Nilai beda potensial dalam tanah dipengaruhi oleh kandungan ion-ion didalam tanah. Semakin banyak ion yang mengalir dalam tana maka akan menimbulkan arus listrik. Aliran ion ini, maka akan menimbulkan arus listrik yang akan menimbulkan nilai beda potensial alami yang akan dicari nilainya dengan metode ini. Olehkarena itulah, kelembaban tanah yang mempengaruhi kandungan ion akan mempengaruhi hasil pengukuran, Hal ini sejalan dengan letak matahari di atas bumi sehingga waktu pengambilan data harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran. Pada pengukura gradient ini dilakukan di permukaan tanah yang mengalami retakan sehingga pada saat porous pot di masukkan tidak semua bagiaan dari sekeliling porous pot tertutupi oleh tanah, hal inilah salah satu hal yang mempengaruhi nilai beda potensial yang dihasilkan, selain itu adanya akar, dan bebatuan yang terdapat di area pengambilan data akan mempengaruhi terhadap nilai yang dihasilkan.
Untuk percobaan SP dengan menggunakan metode Fix base tidak berbed jauh dengan langkah-langkah atau tahapan pengambian data dalam metode gradient. Namun perbedaan yang paling mencolok yaitu dalam pengambilan data Fix base dibutuhkan kabel panjang. Pada pengambilan data Fixbase dilakukan di belakang gedung rektorat ITS, dimana dilakukan pengambilan data dalam kurun waktu pukul 10.20 hingga 12.10. Dalam proses pengambilan data dilakukan dengan salah satu porous pot atau kutub negatif pada volt-meter dihubungkan ke elektroda tetap, sedangkan kutub positif bergerak. Satuan yang digunakan dalm metode ini yaitu mV. Metode fixbase memiliki kelebihan dan kekurangan, penggunaan metode ini memiliki tingkat ketepatan pengukura berulang yang cukup baik, namun penggunan dengan motode ini kurang praktis jika dibandingkan dengan metode gradient.
Pada percobaan menggunakan metode fixbase yang telah dilakukan didapatkan data bahwa dalam koordinat X =698000 dihasilkan rentang nilai 50 sampai 100. Dan saat koordinat Y=9194000 didapatkan nilai -50. Beda potensial terbesar berada X= 698100-698200 yaitu dengan nilai 200 sampai 500, sedangkan nilai terendahnya yaitu saat X=698400-698500 dengan nilai -50 sampai 150. Nilai yang dihasilkan dipengaruhi oleh adanya kelembapan dan adanya gangguan akibat adanya akar pohon dan batuan-batuan. Dalam percobaan ini hasil yang didapat antara penggunaan metode Fixbase dan metode Gradient karena dilakukan di dua tempat yang berbeda dan dalam rentang waktu yang berbeda pula. nilai hasil pengukuran sangat bergantung pada aliran ion alami yang ada pada tempat dilakukanya pengukuran. Aliran ion alami dipengaruhi oleh faktor kelembaban udara, waktu pengukuran, letak geologis bumi, dan adanya tekanan. Aliran ion alami dipengaruhi oleh waktu pengukuran. Hal ini dikarenakan adanya gerak semu matahari yang terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat yang bergantung waktu. Adanya matahari memungkinkan adanya perubahan suhu dalam tanah dan mengakibatkan terjadinya peruahan kelembaban pada tanah. Sedangkan tanah yang lembab mempunyai kandungan ion yang lebih banyak daripada tanah yang kering. Sehingga tanah yang lembab mempunyai nilai beda potensial alami yang kecil akibat nilai resistivitas yang besar. Hal ini bisa diketahui karena semakin besar konduktivitas, maka resistivitasnya semakin kecil. Hal ini pula yang menyebabkan nilai beda potensial juga semakin kecil. Oleh karena itu, pengukuran diwaktu pagi akan menghasilkan nilai yang lebih kecil daripada pengukuran yang dilakukan pada siang hari yang panas. Letak geologis bumi terhadap adanya aliran ion berhubungan dengan adanya aliran air di sungai maupun di bawah tanah dekat dengan daerah tempat dilakukanya pengukuran. Daerah seperti ini biasanya akan mempunyai aliran ion yang lebih cepat, sehingga nilai beda potensialnya kecil karena resistivitasnya semakin kecil.

IV.  kesimpulan

Percobaan Sp dengan menggunakan metode gradient dan fix base yang di lakukan di taman alumni ITS (metode gradient ) dan di belakang geduk rektorat ITS (metoe fixbase) didaptkan nilai beda potensial yang tidak merata dlam tiap-tiap metode yang digunakan. Untuk metode gradient didaptkan beda potensaial terbesar yaitu pada rentang X=67790 - 67795 dengan Y= 9194895 dengan nilai 20. Sedangkan terendahnya yaitu X=697800 Y=9194870; X= 697795 - 697800 Y=9194875; X=699795-697800 Y=9194880-9194885 ; X =697795 Y= 9194890-9194895 dengan nilai -24. sedangkan untuk metode fixbase didaptkan nilai beda potensial terbesar yaitu  X= 698100-698200 Y=914700-914800 yaitu bernilai renang 200 sampai 500. Sedangkan yang terendah yaitu di koordinat  X=698100 Y=9194800 yaitu -50.

V. UCAPAN TERIMA KASIH

Saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah swt yang telah memberikan karuniaNya, kedua orang tua yang selalu mendukung saya, Bapak Dr. Sungkono selaku Dosen Pembimbing Eksplorasi Kelistrikan Bumi, dan Asisten Laboratorium yaitu Bramantya Ramadhani dan Anisa R, rekan satu tim dan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporn ini.

VI. kritik dan saran

Penulisan laporan ini jauh dari kata sempurna, tiak ada gding yang tak retak, untuk itulah sangat diperlukan adanya kritik dan saran dari pembaca demi kemajuan dan pegambangan lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sharma, P. V. 1997. Enviromental and Geophysics. New York: Cambridge University Press.
[2] Raharjo, S.A., Sehah. 2011. Survei Metode Self Potential Menggunakan Elektroda Pot Berpori untuk Mendeteksi Aliran Fluida Panas Bawah Permukaan di Kawasan Baturaden Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, Berkala Fisika Flux, Vol 8, No.1, Februari 2011, Hal. 7-21.
[4] Hamzah, M., S. Joko, and S. Wahyudi. 2008. Deteksi Aliran Air Dalam Media Pemodelan Fisis dengan Metode Self PPotential.UGM Lab Geofisika MIPA: Yokyakarta. 
[5] Sudiartono. 2007. Metode Potensial Din (Self Potential). Universitas Gadjah Mada: Laboratorium Geofisika MIPA. 
[5] Rizal, Achmad.  2010. Penentuan Sumber Air Dengan Menggunakan Metode Potensial Din (Self Potensial) Di Daerah Nggunting Sentul Kabupaten Pasuruan.Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Program Sarjana Universitas Negeri Malan.
[6] Davydov, A.Ya. 1961 Positive Self-Potential Anomalies Over Sulfe Bodies. Sovetskaya Geologiya.
































































































Penerapan Metode Self-Potensial untuk Mengetahui Anomali Bawah Tanah Area Taman Alumni dan Belakang Gedung Rektorat ITS

PENERAPAN METODE SELF-POTENSIAL UNTUK MENGETAHUI ANOMALI BAWAH TANAH PADA AREA TAMAN ALUMNI DAN BELAKANG GEDUNG REKTORAT ITS Reni Agu...